Drama TeKaWe [Hong Kong]



Entah mengapa, kalau mendengar kata Hong Kong, yang terbesit di pikiran saya adalah TKW. hihihi...
Mungkin karena Hong Kong adalah negara yang cukup populer dan menjadi incaran para Buruh Migran Indonesia (BMI) alias Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari Indonesia.




Sewaktu saya traveling ke Hong Kong, yang namanya TKW memang betebaran dengan gegap gempita dari pusat sampai ke pinggiran kota, dari keramaian sampai ujung berung yang sepi, sampai-sampai saya mungkin juga dikira TKW kalau pas nggak gendong ransel. hihihi


Penampilan mereka juga macem-macem banget, ada yang berhijab syar'i, yang modis ala artis, yang biasa ala gadis desa, sampai yang norak-norak bergembira. Begitupula perilakunya, dari yang sopan, ramah, baik hati, sampai yang ngisin-ngisini, semua ada. komplit!


Pengalaman ngobrol pertama adalah saat saya di Nan Lian Garden. Saya ketemu 2 orang mbak-mbak TKW, masih muda belia. Mereka sedang asik sibuk foto-foto bergantian dengan berbagai pose di taman. Saya samperin mereka, saya menawarkan untuk membantu memfoto mereka berdua [ya kali mereka pingin punya foto berdua gitu, secara tongsis dilarang dipakai di Nan Lian Garden]. 
Dari sini obrolan remeh temeh pun berlanjut, kebetulan tujuan kami selanjutnya satu arah, sehingga kami naik MTR bareng.
Dari obrolan ini setidaknya saya tahu bahwa mbak I baru lulus SMP langsung kerja ke Hong Kong (saya curiga umur di dokumen dipalsukan/dituakan supaya lolos persyaratan jadi TKW), mbak II lulusan SMA. Pada hari Sabtu-Minggu adalah hari libur mereka, jadi mereka memanfaatkan untuk rekreasi. Suka duka mbak I dan mbak II menjalani kehidupan jadi TKW rata-rata sama, suka karena gajinya lebih besar dibanding kerja di Indonesia, duka karena jauh dari keluarga dan hanya bisa pulang 2 tahun sekali. Kalau Lebaran tiba, mereka harus tetap bekerja seperti biasa dan cuma bisa nelongso membayangkan ramenya suasana lebaran bersama keluarga lengkap dengan sedapnya masakan khas di kampung halaman.

Di port of visa Shenzhen saya ketemu sekelompok mbak-mbak TKW yang sedang memperpanjang izin tinggal. Sempat ngobrol sebentar dengan mbak III dan mbak IV.


Kira-kira percakapannya seperti ini:

Saya [S]: Betah mbak kerja di Hong Kong?
Mbak III & IV: ya dibetah-betahin, mbak. Soalnya butuh uang buat anak di kampung.
Mbak III: Saya pengennya sih sebentar aja kerja, mbak. Kasihan suami saya di kampung. Tapi ya gimana lagi, anak saya masih butuh uang buat sekolah.
Mbak IV: Kalau saya juga butuh uang buat anak. Soalnya saya nggak punya suami.
Mbak III: Saya pengennya nabung juga, mbak. Buat modal usaha. Saya nggak mau selamanya jadi TKW.


Obrolan saya selanjutnya dengan mbak V, yang ketemu di imigrasi Hongkong dari Shenzhen. Sepanjang imigrasi sampai di MTR kami asyik ngobrol. 

Mbak V ini kisah hidupnya lebih dramatis. Saya sampai mau nangis denger ceritanya. 
Mbak V kerja di Hong Kong karena 'lari dari kenyataan' hidupnya di kampung. Dikhianati suami dan dia harus menanggung biaya hidup anaknya dengan kondisi anak yang sumbing total dan harus operasi 3x. Betapa berat beban hidupnya :(
Mbak V bekerja mengasuh orang tua (lansia). Majikan mbak V ini bawel banget dan begitu membenci mbak V. Meski anak-anaknya majikan lansia ini begitu baik dengan mbak V.  Tapi akhirnya mbak V dipecat si majikan. Sewaktu saya ketemu, mbak V sedang mengurus syarat kontrak dengan majikan yang baru. [semoga mbak V hidupnya lebih baik].

Karena saya kelaparan habis mbolang di Shenzhen, mbak V merekomendasikan saya untuk pergi ke Kowloon Park, karena di Kowloon Park ada banyak TKW yang jualan makanan di hari Sabtu-Minggu.


Perkumpulan TKW di salah satu sudut Kowloon Park

Sampailah saya di Kowloon Park,
Takjub banget liat seombyok mbak-mbak TKW yang lagi kumpul-kumpul di beberapa spot di taman. Ada yang buka lapak lesehan. Pokoknya rame serasa di Pasar Beringharjo. hi..hi...

Saya mulai menyapa salah satu TKW yang berjenis ibu-ibu, untuk membeli makan.
Si ibu langsung menyambut saya dengan gegap gempita, menawarkan menu, dan kemudian mengambilkan seporsi nasi ayam lengkap dengan sambal, terong bakar, teri kacang, dan lalapan. Tak lupa minuman dan sarung tangan plastik buat muluk, biar tangannya tetep bersih. 
Rasa makanan ini ENAK BANGET! dan harganya MURAH meriah.

Ibu ini baik banget, ngajak ngobrol ini-itu tentang pengalaman dia yang sudah melanglang buana jadi TKW selama 20 tahun dan Hong Kong sudah seperti rumah sendiri. 
Ibu pun sudah berhasil membiayai 2 anaknya sampai jadi sarjana, satu lagi anaknya masih SMA. Mbak-mbak TKW lain pun semangat ikutan nimbrung ngobrol menceritakan kisahnya masing-masing.

Sewaktu saya berpamitan untuk kembali ke hostel, si ibu sempat memberi saya seplastik rempeyek jualannya yang rasanya enak banget dan memberikan pelukan hangat seperti dengan anak sendiri. [saya jadi mbrebes mili].



Nasi Ayam ala TKW


Selain bekerja, tamasya, nongkrong, belanja, ngegosip, para TKW ini juga melakukan kegiatan positif: mengaji.
Kelompok pengajian ini saya temui sewaktu saya mampir shalat setelah kekenyangan makan dim sum di Masjid Omar Ramju Sadick. 
Suara merdu mbak-mbak yang lagi tilawah di sini benar-benar membuat saya serasa di Indonesia dan tiba-tiba pipi saya basah oleh air mata. 


Pengajian TKW di Masjid Omar Ramju Sadick

Kesan Jagungmanis:

  • TKW di Hong Kong ini relatif ramah dan baik. Mereka 'guyub', selalu menyapa siapapun sesama orang Indonesia. Mereka pun kalau ketemu selalu memakai bahasa daerah. Tidak seperti TKW di Malaysia yang kebanyakan berbahasa melayu, dan kalau ketemu sesama orang Indonesia nggak mau menyapa.
  • Sempatkan mampir ke Kowloon Park dan Victoria Park di hari Sabtu-Minggu, karena di sana kamu bisa makan makanan Indonesia yang enak, halal dan murah meriah yang dijual mbak-mbak TKW.  Mulai dari ayam penyet, ikan goreng, pecel, sampai bakso ada di sana.

Share:

3 komentar

  1. Replies
    1. waktu saya ke sana sih sekitar habis maghrib, mereka sudah banyak yang tutup.
      Tinggal beberapa aja yang kemas-kemas tapi masih melayani pembeli seperti di lapak ibu yang dagangannya saya beli.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar :)

NO SPAM! NO SARA!