Traveling Menggunakan Hijab, Repotkah?



Banyak yang bilang pake hijab itu ribet, apalagi kalo pas traveling. Repotnya dobel-dobel. Tapi benarkah?



Saya adalah seorang kapiten hijab traveler, alias mbak-mbak berhijab yang hobinya piknik. Pakaian saya sehari-hari adalah baju atasan panjang (tunik) dengan rok dan kerudung lebar, atau selembar gamis dengan kerudung lebar. Baik untuk sehari-hari maupun dalam rangka piknik, podo wae. Paling cuma ditambah coat panjang aja kalo pas ke negara dengan suhu dingin. Baju saya ya itu-itu aja dalam berbagai suasana. all in one lah ya. hahaha *ngirit*

Bukan karena saya nggak bisa beli baju model terbaru atau nggak pingin gaya kekinian, tapi karena saya sedang berusaha menjadi seorang hamba yang taat yang memegang teguh prinsip dalam keyakinan (agama) saya, meskipun masih jauh dari sempurna. 
Namun itu semua tidak menghalangi hobi saya yang suka kliteran kemana-mana. *kibas kerudung*

Saya seringnya dilempar pertanyaan seperti ini: 
"Itu roknya bikin repot nggak sih, mbak?"
"Kalo penampilannya syar'i gitu apa nggak dikira teroris pas di imigrasi?"
"Bawa bajunya pasti jadi banyak banget ya?"
"Kalo di negara yang Islamnya minoritas pasti dikira orang aneh kalo bajunya begitu, kan?"

Wes, pokoke orang yang liat itu malah repot sendiri, sementara saya yang ngelakuin sih biasa aja. Buat saya, baju yang gedombrogan nan berkibar-kibar ini sama sekali nggak  menghambat gerak-gerik saya saat piknik, meskipun harus naik turun tangga/eskalator, naik turun bus/kereta, jalan jauh atau bahkan lari-lari.

Mosok sih?
Kalo nggak percaya, coba aja dipraktekkan.
Seringnya sih orang itu udah ngeper duluan, padahal kalo udah dijalani nggak se-ngeri yang dibayangkan.

Saya dulu sebelum berhijab pun berpikiran sama. 
Kayaknya kok ribet bener ya, apalagi saya kan wanita semi laki-laki yang pethakilan gini. Biasanya cuma pake kaos oblong sama celana jeans kemana-mana. Nggak sanggup bingits kalo harus pake rok ala-ala wanita tulen nan jelita.

Tapi sejak 8 tahun yang lalu, setelah saya mencari hidayah dan insyaf dari lembah nista, saya memutuskan untuk berhijab. Apa yang saya anggap ribet itu ternyata nggak seperti yang saya bayangkan dulu. Malah saya merasa adem, ayem, tur tentrem dengan menggunakan hijab ini. Lebih aman dan terlindungi dari berbagai godaan syaithon. *eh*

Awalnya memang belum terbiasa dengan rok lebar menggelepar. Tapi lama-lama jadi biasa dan nemu trik-trik khusus, supaya rok nggak kejiret.
Bahkan banyak pengalaman unik yang saya dapatkan di dalam dan luar negeri dengan hijab saya ini.

BALI
Pernah diajak foto sama sepasang simbah-simbah, saya nggak tau dari mana, tapi dari penampakannya sih seperti dari Asia Timur gitu. 
Lagi enak-enak menikmati deburan ombak di pantai, eeeh, saya disapa simbah perempuan dan dia memberikan tanda pake tangan (karena nggak ngerti bahasa) yang kira-kira terjemahannya: "Mau nggak kamu kami ajak foto bareng?" trus saya sih angguk-angguk aja sambil senyum. Kemudian simbah perempuan itu nggandeng saya menuju ke tempat berdiri suaminya, setelah sebelumya minta tolong kawan saya buat motretin. Jadilah kami berfoto ber 3 (saya dan sepasang simbah) dengan senyum yang mengembang. Setelah itu simbah pun berterima kasih sambil tersenyum puas. 
Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin saya lucu atau aneh? karena saya lagi di pantai tapi bajunya gamis lebar melambai. Embuh lah. Saya sih seneng-seneng aja. hahahaha

SINGAPORE
Kata orang, imigrasi Singapore suka rese sama orang yang pake kerudung. Banyak orang kita yang saking takutnya, pas mau liwat meja imigrasi pada buka kerudung dulu sampai paspor dicap. Setelah itu kerudungnya dipakai lagi. 
Saya sih malah heran banget sama orang kita yang berkelakuan kayak gini. Masa sebegitunya sampai rela menanggalkan yang wajib demi cap paspor masuk sebuah negara. Imannya kemana aja? *halah*
Pengalaman saya berkali-kali keluar masuk imigrasi di Singapore dengan hijab tidak pernah bermasalah, tidak pernah ditanya perihal hijab saya. Pertanyaan yang diajukan petugas ya standar aja: "Berapa lama di Singapore?", "Menginap dimana?", "Dalam rangka apa ke Singapore?". Seputar itu doang. Masih sesuai SOP keimigrasian yang wajar.
Saya yakin, bagaimanapun juga mereka tetap menghormati kepercayaan orang lain, nggak mungkin mereka dengan dzalimnya nyuruh buka kerudung di tempat umum gitu, toh Singapore penduduknya banyak juga yang muslim.

HONG KONG
Karena saya berhijab, jadi mudah dikenali sebagai orang Indonesia, dan banyak disapa ramah sama mbak-mbak TKW di sepanjang jalan di Hong Kong. Dari situ saya jadi banyak ngobrol sama mereka, malah sampe pada curhat segala kayak di cerita ini. Lumayan kalo pas nggak ngerti jalan atau nanyain tempat, Mbak-mbak TKW dengan senang hati membantu memberikan informasi atau bahkan mengantarkan.

MACAU
Disapa salam sama sekeluarga dari Malaysia. Karena kami sama-sama berhijab, jadi nggak canggung, seperti ketemu saudara aja, padahal nggak kenal. Akhirnya malah jadi ngobrol, walaupun sedikit, karena waktu itu lagi sama-sama makan di restoran muslim. 
Eee... pas jalan-jalan di Venetian Mall ketemu lagi. Saling sapa kayak udah kenal lama. Seru aja gitu. 

TURKI
Meskipun mayoristas muslim, tapi Turki adalah negara sekuler. Yang pake hijab banyak, yang pake baju seksi juga betebaran. Dengan model hijab yang saya pakai, saya sering disapa orang dan dikira orang Malaysia. Nggak pa-pa sih, Indonesia dan Malaysia kan serumpun Melayu, anggep aja podo wae. hihihi

IMIGRASI
Sejauh ini saya tidak pernah mengalami permasalahan berkaitan dengan penampilan syar'i saya. Pernah saya kena random check di imigrasi Hong Kong pas masuk dari Shenzhen. Tapi yang dipertanyakan (bukan dipermasalahkan) itu hanya karena ada penambahan nama di halaman endorsement paspor saya. Enggak masalah kok, namanya juga random check, cukup klarifikasi aja. Yang kena random juga nggak cuma saya, nggak cuma yang kerudungan seperti saya. Sepasang suami istri bermuka seperti Bangladesh pun kena, ibu-ibu bawa anak 2 biji bermuka Chinese pun kena, mas-mas ala Korea pun kena, macem-macem rupa dan bentuknya bisa kena random check di imigrasi. 




Mungkin akan ada lebih banyak lagi cerita tentang traveling dengan hijab, mengingat saya masih pengen ngiterin dunia. Tapi semoga dapet pengalamannya yang bagus-bagus aja yaaa..... 
InsyaAllah nanti dibuat sekuelnya. hihihihi



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jawaban atas pertanyaan orang-orang tadi adalah seperti ini: 

"Itu roknya bikin repot nggak sih, mbak?"
- Enggak repot kok. Ada trik dan tips nya supaya nggak kejiret, dan itu gampang!

"Kalo penampilannya syar'i gitu apa nggak dikira teroris pas di imigrasi?"
- Sejauh ini saya belum pernah diintrogasi atau sampai kena masalah di imigrasi berkaitan dengan penampilan syar'i. Semoga sampai kapanpun nggak akan ada masalah tersebut. Aaminn....

"Bawa bajunya pasti jadi banyak banget ya?"
- Enggak kok. Rok panjang saya yang lebar cukup bawa 2 dan bisa tahan lama seperti layaknya celana jeans. Malah rok itu ringan banget. Kalau pakai gamis malah lebih irit lagi, karena cuma 1 piece bisa dipakai 2-3x (tergantung kondisi cuaca & suhu). Kerudungnya pilih yang berbahan ringan dan bisa dipakai bolak-balik.

"Kalo di negara yang Islamnya minoritas pasti dikira orang aneh kalo bajunya begitu, kan?"
- Bisa jadi tapi nggak selalu kok. Santai aja, yang penting kan kita nyaman & nggak berbuat sesuatu yang melanggar aturan hukum. Mau orang bilang apa, tetep PD aja, jangan takut. Kita wajib memegang kuat prinsip yang kita yakini. Anggap aja sekalian syiar agama. Tunjukkan pada dunia kalau Islam itu indah & damai.

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar :)

NO SPAM! NO SARA!